Selasa, 18 Agustus 2009

1. PROFIL DESA CANGKUANG

1. Sejarah

Nama Desa Cangkuang berasal dari nama sebuah pohon yang juga bernama cangkuang. Di desa ini ada sebuah legenda tentang para leluhur. Menurut skema sejarah, konon ada seorang kyai yang merantau dari Situ Panjalu ke Cangkuang. Ia bernama Mbah Dalem Sutra Wiyangga. Tidak lama berselang, datanglah Eyang Kalang Bima yang berasal dari Karawang. Ia datang ke Cangkuang bermaksud untuk mencari
lawan bertanding yang dapat mengalahkan dirinya. Ia mencari lawan yang gagah, berani dan sakti.

Sesampainya di Desa Cangkuang, Eyang Kalang Bima bertemu dengan Eyang Sutra Wiyangga. Kemudian keduanya bertarung di Ranca Ciganitri dengan mengeluarkan kekuatannya masing-masing. Dalam pertarungan itu, Eyang Kalang Bima kalah oleh Eyang Sutra Wiyangga. Menurut cerita, Eyang Kalang Bima kalah dengan menggunakan bulir padi yang membelah perutnya hingga keluar seluruh isi perutnya.

Pada saat itu, Eyang Kalang Bima menyatakan menyerah dan takluk kepada Eyang Sutra Wiyangga. Ia mengatakan bersedia membantu keturunan Cangkuang di manapun dan kapan pun ia dibutuhkan. Menurut legenda, dengan menginjak bumi tiga kali dan menyebut nama Eyang Kalang Bima, maka Eyang Kalang Bima akan datang dan membantu orang yang membutuhkan.





2. Letak Geografis

Desa Cangkuang terletak di Kecamatan Cangkuang, di wilayah Kabupaten Bandung, dimana jarak ke ibukota kecamatan 1 km selama 5 menit dengan menggunakan kendaraan umum angkot., sedangkan jarak ke ibukota kabupaten adalah 3 km, dapat ditempuh dengan kendaraan umum angkot selama 30 menit. Setiap tahun wilayah Cangkuang mendapat curah hujan berkisar 2000 mm, dengan suhu rata-rata 20°/32°. Umumnya wilayah Desa Cangkuang berbentuk dataran rendah. Luas desanya adalah 231.699 ha.





3. Data Kesenian Setiap RW















































Keterangan

RW

Jenis kesenian

Lembaga/Pihak yang bisa dihubungi

Nomor Kontak

Alamat

RW 03


reog, calung, gondang, rampak sekar dan pencak silat

Bapak Entis dan Bapak Yayat



RW 05


Upacara adat sunda, kecapi suling, degung, jaipong, dangdutan, rampak kendang, Hajat lembur.

Lingkung Seni Lokatmala (Bapak Udin dan Bapak Dedi)

Bpk. Dedi: (022)76950585


RW 06


jaipongan, rampak sekar, Beluk

Aki Encang



RW 07


Singa depok, kuda renggong, dan domba renggong

Ketua RW 07 (Bapak Jajang)



RW 09


Singa Depok

Pusaka Bima Kencana (Bapak Dayat)



Pencak Silat dan Debus

Sinar Banten (pak Dadang)





4. Profil Seni Budaya

a. Hajat Lembur

Hajat lembur merupakan ritual kebudayaan dari nenek moyang sejak dahulu yang terus dipakai atau dilaksanakan sampai sekarang oleh masyarakat cangkuang. Hajat lembur dilaksanakan setiap tanggal 10 Muharam yang disebut dengan “asuro” (bulan pertama dalam kalender islam). Ritual hajat lembur oleh masyarakat cangkuang berfungsi untuk mencegah penyakit yang ada didunia ini, untuk mrnghapus segala dosa (ngarewahkeun) dan untuk menyambut datangnya bulan Suci Ramadhan.



b. Beluk

Kesenian beluk banyak terdapat di daerah pegunungan Kabupaten Bandung dan Daerah Kabupaten lainnya yang artinya sora dieluk-eluk seorang pemain beluk harus kuat dalam memainkan suara keras panjang . Beluk dapat juga disebut Macapat / membaca cepat -cepat / membaca bari ngajepat ( membaca sambil terlentang) nenek moyang kita menyimbolkan badan manusia terdiri 4 zat Aip, api, Angin, tanah yang kesemuanya pemberian Tuhan yang harus dipelihara .

Macapat biasanya dipergunakan dalam acara 40 bayi lahir mengadakan syukuran kepada Tuhan YME dan diselenggarakan malam hari, Beluk diambil dari pupuh yang 17 diantaranya : Kinanti, Sinom, Asmarandana, Dangdanggula KSAD, ceritanya bersumber pada naskah Wawacan yaitu : wawacan, Ogin,wawacan Ahmad Muhamad, Ali Muhtar, Angling darama, Arjuna Sastrabahu, Damar wulan, Danu Maya, Dewa Ruci,Ekalaya, Gandamanah, Rangga Pulung, Panji wulung, Sangkuriang, Sulanjana, surya Ningrat, Udayana Walang sangsang dll.

Pertunjukan Beluk dilakukan oleh 4 orang atau lebih,satu orang bertugas sebagai pembaca kalimat-kalimat dari wawacan,kemudian juru Ilo yang menyanyikan dari bacaan tersebut dengan lagu pupuh 17 (KSAD) satu persatu. Kostum biasanya memakai baju kampret atau takwa,sarung/celana panjang,kopeah/iket,karena naskah wawacan panjang biasanya membawa buku /naskah wawacan. Yang menarik dari pertunjukan Beluk adalah di mana para juru Ilo menyajikan dengan suara yang keras dan panjang,sehingga menambah suasana yang khas pedesaan yang penuh dengan keakraban dan harmoni dengan lingkungan alam nya.Beluk adalah salah satu jenis kesenian rakyat yang tumbuh di Kabupaten Bandung yang sampai saat ini masih ada beberapa gelintir orang yang peduli terhadap keberadaan kesenian Beluk.

  • Tokoh seni beluk

  • Wawacan (naskah kuno)

c. Adu Domba

Adu domba di desa Cangkuang merupakan sebuah ajang untuk menguji kekuatan domba-domba dengan cara mengadukannya. Adu domba ini diiringi alat musik tradisional sunda seperti kendang, gong, bonang, saron, dan terompet. Selain itu adu domba ini juga diiringi dengan lagu-lagu sunda yang dibawakan oleh seorang sinden. Adu domba ini bukanlah sebuah arena untuk bermain judi, namun merupakan arena untuk menampilkan kesenian tradisional dan tradisi masyarakat cangkuang yang merupakan warisan leluhur.


Adu domba biasanya diadakan di sebuah lapangan terbuka setiap dua minggu sekali. Acara ini tidak hanya diikuti oleh masyarakat desa Cangkuang, namun masyarakat luar desa Cangkuang pun boleh ikut berpartisipasi.


d. Singa Depok

Sisingaan adalah suatu kesenian khas masyarakat Sunda (Jawa Barat) yang menampilkan 2-4 boneka singa yang diusung oleh para pemainnya sambil menari. Di atas boneka singa yang diusung itu biasanya duduk seorang anak yang akan dikhitan atau seorang tokoh masyarakat.


Kesenian sisingaan diciptakan sekitar tahun 1840 oleh para seniman yang berasal dari daerah Ciherang, sekitar 5 km dari Kota Subang.

Dalam perkembangan selanjutnya, kesenian sisingaan bukan hanya menyebar ke daerah-daerah lain di Kabupaten Subang, melainkan juga ke daerah-daerah lain di Jawa Barat, seperti di desa Cangkuang kabupaten Bandung. Selain menyebar ke beberapa daerah, kesenian ini juga mengalami perkembangan, baik dalam bentuk penyempurnaan boneka singa, penataan tari, kostum pemain, maupun waditra dan lagu-lagu yang dimainkan.

Para pemain sisingaan umumnya adalah laki-laki dewasa yang tergabung dalam sebuah kelompok yang terdiri atas: 8 orang penggotong boneka singa(1 boneka digotong oleh 4 orang), seorang pemimpin kelompok, beberapa orang pemain waditra, dan satu atau dua orang jajangkungan (pemain yang menggunakan kayu sepanjang 3-4 meter untuk berjalan). Para pemain ini adalah orang-orang yang mempunyai keterampilan khusus, baik dalam menari maupun memainkan waditra. Keterampilan khusus itu perlu dimiliki oleh setiap pemain karena dalam sebuah pertunjukan sisingaan yang bersifat kolektif diperlukan suatu tim yang solid agar semua gerak tari yang dimainkan sambil menggotong boneka singa dapat selaras dengan musik yang dimainkan oleh para nayaga.

Sisingaan ini umumnya ditampilkan pada siang hari dengan berkeliling kampung pada saat ada acara khitanan, menyambut tamu agung, pelantikan kepala desa, perayaan hari kemerdekaan dan lain sebagainya. Durasi sebuah pementasan sisingaan biasanya memakan waktu cukup lama, bergantung dari luas atau tidaknya kampung yang akan dikelilingi.

Peralatan yang digunakan dalam permainan sisingaan adalah: (1) dua atau empat buah usungan boneka singa. Rangka dan kepala usungan boneka - boneka singa tersebut terbuat dari kayu dan bambu yang dibungkus dengan kain serta diberi tempat duduk di atas punggungnya. Sedangkan, untuk bulu-bulu yang ada di kepala maupun ekor dibuat dari benang rafia.

Gerakan-gerakan tarian yang biasa dimainkan oleh para penggotong boneka singa tersebut adalah: igeul ngayun glempang, pasang/kuda-kuda, mincid, padungdung, gugulingan, bangkaret, masang, sepakan dua, langkah mundur, kael, ewag, jeblang, depok, solor, sesenggehan, genying, putar taktak, nanggeuy singa, angkat jungjung, ngolecer, lambang, pasagi tilu, melek cau, nincak rancatan, dan kakapalan.

Sedangkan, lagu-lagu yang dimainkan oleh juru kawih untuk mengiringi tarian biasanya diambil dari kesenian Ketuk Tilu, Doger, dan Kliningan, seperti: Keringan, Kidung, Titipatipa, Gondang, Kasreng, Gurudugan, Mapay Roko, Kembang gadung, Kangsring, Kembang Beureum, Buah Kawung, Gondang, Tenggong Petit, Sesenggehan, Badudud, Tunggul Kawing, Samping Butut, Sireum Beureum, dan lagu Selingan (Siyur, Tepang Sono, Awet Rajet, Serat Salira, Madu dan Racun, Pria Idaman, Goyang Dombret, Warudoyong dan lain sebagainya).

Pertunjukan sisingaan ini dilakukan sambil mengelilingi kampung atau desa, hingga akhirnya kembali lagi ke tempat semula. Dan, dengan sampainya para penari di tempat semula, maka pertunjukan pun berakhir.


e. Kuda Renggong

Kuda Renggong atau Kuda Depok ialah salah satu jenis kesenian helaran yang terdapat di Desa Cangkuang Kecamatan Cangkuang Kabupaten Bandung. Kata "renggong" di dalam kesenian ini merupakan metatesis dari kata ronggeng yaitu kamonesan (bahasa Sunda untuk "keterampilan") cara berjalan kuda yang telah dilatih untuk menari mengikuti irama musik terutama kendang, yang biasanya dipakai sebagai media tunggangan dalam arak-arakan anak khitan.

Menurut tuturan beberapa seniman, Kuda Renggong muncul pertama kali dari desa Cikurubuk, Kecamatan Buah Dua, Kabupaten Sumedang. Di dalam perkembangannya Kuda Renggong mengalami perkembangan yang cukup baik, sehingga tersebar ke berbagai desa di beberapa kecamatan di luar Kecamatan Buah Dua. Dewasa ini, Kuda Renggong menyebar juga ke daerah lainnya di luar Kabupaten Sumedang seperti ke Desa Cangkuang ini.

Seni kuda renggong memiliki kemiripan dengan seni singa depok dari Kabupaten Sumedang dari segi tampilannya. Kedua seni ini diiringi dengan musik yang terdiri atas kendang, gong, terompet yang dihiasi dengan alunan kawih dari seorang sinden.

Gerakanya selain gerakan kaki Kuda yang berjingkrak-jingkrak, juga kepala Kuda Renggong pun ikut pula terangguk-angguk. Di depan atau di pinggir Kuda Renggong ada beberapa penari, baik dari rombongan Kuda Renggong sendiri maupun dari para penonton atau kerabat yang punya hajatan. Mereka dengan suka citanya ikut berjoget atau menari sebisanya, dan hal inilah yang menambah semaraknya pertunjukkan Kuda Renggong.


f. Kecapi Suling

Kecapi Suling merupakan perangkat waditra Sunda yang terdapat hampir di setiap daerah di Tatar Sunda termasuk di desa Cangkuang kabupaten Bandung. Waditranya terdiri dari Kecapi dan Suling. Kecapinya terdiri dari Kecapi Indung atau Kecapi Parahu atau Kecapi Gelung.

Selain disajikan secara instrumentalia, Kecapi Suling juga dapat digunakan untuk mengiringi Juru Sekar yang melantunkan lagu secara Anggana Sekar atau Rampak Sekar.

Laras yang di pergunakannya adalah laras Salendro, Pelog atau Sorog. Berbeda dengan sebutan Kecapi Suling atau Kacapian bila menggunakan Kecapi Siter. Sudah lazim selain Kecapi Siter dan Suling di tambah pula 1 (satu) set Kendang dan 1 (satu) set Goong. Lagu-lagu yang disajikan secara Anggana Sekar yaitu seperti : Malati di Gunung Guntur, Sagagang Kembang Ros dan lain sebagainya. Sedangkan untuk Rampak Sekar di antaranya Seuneu Bandung, Lemah Cai dan lain sebagainya.

Dalam perkembangannya baik Kacapi Suling yang menggunakan Kacapi Parahu maupun Kacapi Sitter, sering di pergunakan untuk mengiringi Narasi Sunda dalam acara Ngaras dan Siraman Panganten Sunda, Siraman Budak Sunatan, Siraman Tingkeban. Selain instrumentalia disajikan pula lagu-lagu yang rumpakanya disesuaikan dengan kebutuhan acara yang akan di laksanakan. Lagu yang disajikan diambil dari lagu-lagu Tembang Sunda Disamping perangkat Kecapi dan Suling ada pula perangkat Kecapi Biola dan Kecapi Rebab yang membawakan lagu-lagu yang sama. Dalam penyajiannya, Kecapi memainkan bagian kerangka iramanya sedangkan bagian lagunya di mainkan oleh Suling, Biola atau Rebab. Adapun tangga nada atau laras yang dalam Karawitan Sunda di sebut dengan Surupan, ada pula yang di sebut dengan Salendro, Pelog dan Sorog.


g. Seni Tari Jaipongan

Jaipongan adalah sebuah genre kesenian yang lahir dari kreativitas seorang seniman Bandung, yakni Gugum Gumbira. Perhatiannya pada kesenian rakyat yang salah satunya adalah Ketuk Tilu membuat seorang Gugum Gumbira mengetahui dan mengenal betul perbendaharaan pola-pola gerak tari tradisi yang ada pada Kiliningan/Bajidoran atau Ketuk Tilu. Gerak-gerak bukaan, Pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak minced dari beberapa kesenian di atas cukup memiliki inspirasi untuk mengembangkan tari atau kesenian yang kini dikenal dengan nama Jaipongan.

Sebagai seni pertunjukkan rakyat, kesenian ini hanya didukung oleh unsur-unsur yang sederhana, seperti waditra yang meliputi rebab, kendang, dua buah kulanter, tiga buah ketuk dar goong. Demikian pula dengar gerak-gerak tarinya yang tidak memiliki pola gerak yang baku kostum penari yang sederhan sebagai cerminan kerakyatan.

Ciri khas Jaipongan gaya kaleran, yakni keceriaan, erotis, humoris, semangat, spontanitas dan kesederhanaan (alami/apa adanya). Hal itu tercermin dalam pola penyajian tari pada pertunjukkannya, ada yang diberi pola (Ibing Pola) seperti pada seni Jaipongan yang ada di Bandung, juga ada tarian yang tidak dipola (Ibing Saka), misalnya pada Seni jaipongan Subang dan Karawang. Istilah ini dapat kita temui pada Jaipongan gaya Kaleran, terutama di daerah Subang. Dalam penyajiannya, Jaipongan gaya kaleran ini sebagai berikut : 1) Tatalu ; 2) Kembang Gadung 3) Buah Kawung Gopar ; 4) Tari Pembukaan (Ibing Pola), biasanya dibawakan oleh penari tunggal atau Sinden Tatandakan (seorang Sinden tetapi tidak menyanyi melainkan menarikan lagu sinden/juru kawih); 5) Jeblokan dan Jabanan, merupakan bagian pertunjukkan ketika para penonton (Bajidor) sawer uang (Jabanan) sambil salam temple. Istilah Jeblokan diartikan sebagai pasangan yang menetap antara sinden dan penonton (bajidor).

Dewasa ini Tari Jaipongan boleh disebut sebagai salah satu identitas kesenian Jawa Barat, hal ini nampak pada beberapa acara­-acara penting yang berkenaan dengan tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat, maka disambut dengan Tari Jaipongan. Selain itu, dipentaskan pula di acara pernikahan dan khitanan. Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke mancanegara senantiasa dilengkapi dengan Tari Jaipongan. Tari Jaipongan banyak mempengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukkan wayang, degung, genjring/terebangan. Kecapi jaipong dan hampir semua pertunjukkan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong menjadi kesenian Pong-Dut.


h. Rampak Gendang

Rampak Kendang adalah salah satu kreasi musik tradional yang dimainkan bersama-sama oleh sekitar dua sampai puluhan pemain. Ditabuh secara bersamaan sesuai musik yang dilantunkan. Tabuhannya memiliki efek suara yang keras sehingga menimbulkan perhatian para penonton.


Dalam Rampak Kendang, instrumennya tidak hanya kendang saja, tapi dapat divariasikan dengan alat-alat lainnya, seperti : alat gamelan, Rebab, gitar, dlsb.

Dalam memainkannya, dapat berdiri sendiri, artinya dari rampak kendang itulah membentuk lantunan lagu sendiri, atau sebagai pengiring dari suatu tari Jaipongan.

Dalam seni pertunjukan, Seni Rampak Kendang telah diterima sebagai salah satu seni kreasi dan telah dipertunjukan pada acara-acara resmi, baik dilingkup Pemerintahan, lingkup swasta maupun masyarakat umum.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar